Monday, August 15, 2011

17 Ramadhan & 17 Agustus...

Sulit mau di katakan/dibayangkan kejadian pada bulan agustus tahun ini, tanggal 1 agustus bertepatan dengan tanggal 1 ramadhan. Dan nanti, tanggal 17 agustus, tepat pada hari kemerdekaan Republik Indonesia yang juga bertepatan dengan Nuzulul Qur’an. wow .. Jarang sekali pemandangan seperti ini?

Subhanallah, walhamdulillah, walailahaillallah, wallahuakbar....

Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Meninggalkan mereka yang tak pernah mau untuk bergerak dan berubah. Di tahun ini kita telah kembali memasuki tamu yang agung, bulan Ramadhan. Ramadhan ini adalah Ramadhan spesial bagi kita, bangsa Indonesia. Mengapa? Tahukah kita bahwa proklamasi kemerdekaan RI tahun 1945 silam itu terjadi di bulan Ramadhan, tepatnya hari Jum’at, 17 Ramadhan/17 Agustus. Allah Swt., kembali menegur kita melalui pesan-pesan dalam sejarah. Setelah lebih dari 60 tahun kita merdeka, apa yang sudah kita persembahkan kehadirat-Nya. Bukankah kemerdekaan negara ini berdasarkan atas berkat Rahmat Allah yang Maha Kuasa? Hanya penyakit moral yang silih berganti di persembahkan oleh petinggi negara ini.

Nyaris tidak ada petinggi negara ini berprilaku seperti pejuang2 terdahulu, mereka berbuat karena Allah untuk negara yang mulai rapuh ini. Bahkan kemunafikan adalah sebuah strategis unggulan untuk mendapatkan jabatan/krier...realita saat ini...begitulah...

Kita belum belajar dari sejarah

Lantas, apa hubungannya antara 17 Agustus dengan 17 Rakaat dan 17 Ramadhan?

Di dalam Pembukaan UUD 1945 tertulis, "Dengan berkat Rahmat Allah SWT…." Sungguh sebuah pengakuan yang jujur dari para pemimpin kita dahulu bahwa Proklamasi 17 Agustus hanya bisa diperoleh dengan berkat rahmat Allah SWT. Tanpa rahmat Allah SWT, sulit dibayangkan bahwa kemerdekaan ini akan diraih. Jenderal mana yang berani bertaruh, bambu runcing bisa mengalahkan meriam? Ahli strategi perang mana yang berani menjamin bahwa tentara dadakan mampu bertempur dan menang melawan tentara Belanda yang profesional?

Realitas kebangsaan negara Indonesia sejatinya menjadi pemicu utama bagi pemimpin bangsa (khususnya) untuk segera sadar akan kelemahan diri tanpa adanya Allah sebagai Tuhan alam semesta. Indoensia kaya akan segalanya. Melingkupi hampir semua wilayah dari timur ke barat penuh dengan kekayaan alam. Kita dilimpahi nikmat seperti ini adalah agar kita bersyukur kepada-Nya.

Kita mungkin memang belum sepenuhnya belajar dari sejarah. Kita lupa dengan pesan Al-Qur’an Al-Karim tentang pentingnya mengkaji dan merefleksikan nilai-nilai dalam sejarah karena ia adalah ibrah bagi kehidupan kita selanjutnya. Soekarno pun berpesan kepada kita semua, JAS MERAS (Jangan sekali-kali melupakan sejarah). Pernyataan itu bukan tanpa alasan. Karena sejarah akan memetakan pola jalan yang semestinya kita lalui.

Pesan kesamaan dalam angka “17″

Seperti kita ketahui, 17 Ramadhan adalah saat diturunkannya Alquran, yang ayat pertamanya adalah "Iqra" (Bacalah!). Apa yang perlu dibaca? Ayat Allah, baik alam ini maupun wahyu Allah, Alquran. Dengan firman pertama itu, seolah-olah Allah berkata, "Bacalah alam ini, pelajari, dan budidayakan untuk kemaslahatan kalian semua! Bacalah Alqur’an sebagai pedoman hidup kalian".

Keduanya harus kita jalankan dalam rangka menjaga keseimbangan antara hati dan otak. Mengharmoniskan hubungan antara kemajuan intelektual dengan kemantapan akidah.

Dari ketiga angka sakral 17 tersebut, bisa disimpulkan bahwa dengan melaksanakan 17 Rakaat kita isi 17 Agustus dengan berpedoman pada petunjuk yang turun di 17 Ramadhan.

Allah Swt kembali menegaskan bahwa kita harus kembali pada-Nya. 17 Agustus dalam 17 Ramadhan. Apakah ini hanya kebetulan semata?

Buat Anakku; Jangan buat kerusakan dimanapun kamu berada, anyata maupun tidak nyata.





Thursday, August 11, 2011

MARK ZUCKERBERG sang pelopor facebook



Pernah mendengar situs jaringan pertemanan Friendster ? Konon, melalui situs tersebut, banyak orang-orang yang lama tak bersua, bisa kembali bersatu, reunian, dan bahkan berjodoh. Karena itulah, situs pertemanan itu beberapa waktu lalu sempat sangat popular. Karena itu, tak heran jika setelah era suksesnya Friendster, berbagai situs jaringan pertemanan bermunculan. Salah satunya adalah Facebook.

Facebook ini sebenarnya dibuat sebagai situs jaringan pertemanan terbatas pada kalangan kampus pembuatnya, yakni Mark Zuckerberg. Mahasiswa Harvard University tersebut kala itu mencoba membuat satu program yang bisa menghubungkan teman-teman satu kampusnya. Karena itulah, nama situs yang digagas oleh Mark adalah Facebook. Nama ini ia ambil dari buku Facebook, yaitu buku yang biasanya berisi daftar anggota komunitas dalam satu kampus. Pada sejumlah college dan sekolah preparatory di Amerika Serikat, buku ini diberikan kepada mahasiswa atau staf fakultas yang baru agar bisa lebih mengenal orang lain di kampus bersangkutan.

Pada sekitar tahun 2004, Mark yang memang hobi mengotak-atik program pembuatan website berhasil menulis kode orisinal Facebook dari kamar asramanya. Untuk membuat situs ini, ia hanya butuh waktu sekitar dua mingguan. Pria kelahiran Mei 1984 itu lantas mengumumkan situsnya dan menarik rekan-rekannya untuk bergabung. Hanya dalam jangka waktu relatif singkat-sekitar dua minggu-Facebook telah mampu menjaring dua per tiga lebih mahasiswa Harvard sebagai anggota tetap.

Mendapati Facebook mampu menjadi magnet yang kuat untuk menarik banyak orang bergabung, ia memutuskan mengikuti jejak seniornya-Bill Gates-memilih drop out untuk menyeriusi situsnya itu. Bersama tiga rekannya-Andrew McCollum, Dustin Moskovitz, dan Chris Hughes-Mark kemudian membuka keanggotaan Facebook untuk umum.

Mark ternyata tak sekadar nekat. Ia punya banyak alasan untuk lebih memilih menyeriusi Facebook. Mark dan rekannya berhasil membuat Facebook jadi situs jaringan pertemanan yang segera melambung namanya, mengikuti tren Friendster yang juga berkembang kala itu. Namun, agar punya nilai lebih, Mark pun mengolah Facebook dengan berbagai fitur tambahan. Dan, sepertinya kelebihan fitur inilah yang membuat Facebook makin digemari. Bayangkan, Ada 9.373 aplikasi yang terbagi dalam 22 kategori yang bisa dipakai untuk menyemarakkan halaman Facebook, mulai chat, game, pesan instan, sampai urusan politik dan berbagai hal lainnya. Hebatnya lagi, sifat keanggotaan situs ini sangat terbuka. Jadi, data yang dibuat tiap orang lebih jelas dibandingkan situs pertemanan lainnya. Hal ini yang membuat orang makin nyaman dengan Facebook untuk mencari teman, baik yang sudah dikenal ataupun mencari kenalan baru di berbagai belahan dunia.

Sejak kemunculan Facebook tahun 2004 silam, anggota terus berkembang pesat. Prosentase kenaikannya melebihi seniornya, Friendster. Situs itu tercatat sudah dikunjungi 60 juta orang dan bahkan Mark Zuckerberg berani menargetkan pada tahun ini (2008), angka tersebut akan mencapai 200 juta anggota.

Dengan berbagai keunggulan dan jumlah peminat yang luar biasa, Facebook menjadi ‘barang dagangan’ yang sangat laku. Tak heran, raksasa software Microsoft pun tertarik meminangnya. Dan, konon, untuk memiliki saham hanya 1,6 persen saja, Microsoft harus mengeluarkan dana tak kurang dari US$ 240 juta. Ini berarti nilai kapitalisasi saham Facebook bisa mencapai US$15 miliar! Tak heran, Mark kemudian dinobatkan sebagai miliarder termuda dalam sejarah yang memulai dari keringatnya sendiri.

Niat Mark Zuckerberg untuk sekadar ’menyatukan’ komunitas kampusnya dalam sebuah jaringan ternyata berdampak besar. Hal ini telah mengantar pria yang baru berusia 23 tahun ini menjadi miliarder termuda dalam sejarah. Sungguh, kejelian melihat peluang dan niatan baiknya ternyata mampu digabungkan menjadi sebuah nilai tambah yang luar biasa. Ini menjadi contoh bagi kita, bahwa niat baik ditambah perjuangan dan ketekunan dalam menggarap peluang akan melahirkan kesempatan yang dapat mengubah hidup makin bermakna.